IBRANI 11 : 8 – 10.
Pada zamannya, Ur Kasdim merupakan kota metropolitan dunia, dan setiap orang ingin menjadi bagian dari penduduk kota sekelas dunia tersebut. Ur Kasdim menjadi pusat matematika, astronomi, dan juga filsafat. Bagi teman-teman Abraham, meninggalkan kota Ur Kasdim merupakan ide gila, yang tidak bisa diterima akal. Namun itulah iman, Abraham berjalan meninggalkan kota, hanya dengan berpegang pada suara Tuhan, dengan tidak mengetahui tempat yang ia tuju. Abraham berjalan ketempat yang ia tidak ketahui, Allah memanggil dirinya dengan tidak ada jaminan tentang hari esok. Ia hanya melakukan kehendak Allah, tepat seperti apa yang diperintahkan-Nya. Ia meninggalkan kenyamanan, kemapanan, demi ketaatannya kepada Allah. Dalam hidup ini tak salah kita memiliki keinginan demi keinginan serta menyusun segala rencana untuk kurikulum yang kita buat bagi murid yang kita muridkan. Namun segala rencana, kita pasrahkan kepada kedaulatan Allah. Biarlah Ia yang memimpin langkah kita, tidak ada yang lain.